Punya Warna Kulit Gelap, Sophia Latjuba Ceritakan Pengalaman Soal Ras Saat Tinggal di Jerman

Foto: Punya Warna Kulit Gelap, Sophia Latjuba Ceritakan Pengalaman Soal Ras Saat Tinggal di Jerman Instagram



Sophia Latjuba turut menanggapi soal kasus rasisme yang tengah terjadi di Amerika Serikat. Sophia pun mengenang kembali masa kecilnya ketika berada di Jerman.

Kanal247.com - Berita terkait rasisme di Amerika Serikat belum lama ini rupanya menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Sejumlah selebriti pun ikut menanggapi kasus kematian pria berkulit hitam yang bernama George Floyd tersebut. Pria berusia 46 tahun itu diketahui telah mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari beberapa orang polisi.

Salah satu figur publik yang turut menanggapi kasus tersebut adalah Sophia Latjuba. Lewat unggahan di akun Instagram-nya, Sophia menceritakan bagaimana dirinya juga pernah tumbuh besar dengan kulit yang lebih hitam dibandingkan orang-orang sekitarnya semasa kecil.

"Tumbuh besar di sebuah kota kecil di Jerman tahun 70an, aku tahu aku berbeda. Kulitku lebih gelap, rambutku lebih gelap," tulis Sophia dalam bahasa Inggris pada Kamis (4/6). "Ayahku adalah satu-satunya orang Asia dengan agama berbeda di keluarga dan juga komunitas kita. Pamanku bahkan memanggilku 'Rabi' (sampai sekarang), yakni sebuah istilah yang artinya gagak hitam."

Meski memilki warna kulit yang berbeda, Sophia mengaku tak pernah mendapatkan sikap rasis sama sekali semasa kecilnya. Sebab, Sophia mengaku berada di lingkungan orang-orang yang open minded dan tidak rasis.

Baca juga ...

"Ya, aku tumbuh besar dengan pengetahuan jika aku berbeda. Tapi tak pernah sekalipun orang di sekitarku memberikan impresi bahwa perbedaan itu adalah seuatu yang membuatku malu atau khawatirkan," cerita Sophia. "Aku diperlakukan dengan penuh cinta dan hormat sampai ke poin di mana aku merasa jika memiliki kulit yang lebih gelap itu spesial ketimbang orang lain. Tapi aku beruntung karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat open minded."

Bagi Sophia, semua orang memiliki derajat dan hak hidup yang sama tanpa peduli adanya ras maupun warna kulit. Melihat kasus rasisme yang hingga saat ini masih terus terjadi di seluruh penjuru dunia, Sophia berharap agar semua orang bangun dan mulai menginstrospeksi diri.

"Berkaca dari fakta tersebut, aku masih tak bisa mencerna tentang hal yang bernama rasisme, bahwa satu ras itu lebih superior daripada ras lainnya," tutur Sophia. "Kejadian-kejadian buruk yang terjadi tahun ini seakan mengingatkan kita bahwa kita harus mulai melihat ke dalam, bahwa kita adalah orang-orang yang abai dan sudah tertidur terlalu lama; terhadap sesama manusia dan juga alam."

"Sejarah telah berulang dengan sendirinya, mereka yang tertindas dan dilecehkan akan melawan balik untuk mengembalikan keseimbangan dan ini adalah waktu bagi kita manusia untuk bangun dari panggilan dan datang bersama dalam semangat dan cinta," pungkas Sophia. "Ini waktu yang tepat bagi sebuah pencerahan, meskipun itu harus dimulai dari bawah ke atas."

Komentar Anda

Tags

Rekomendasi Artikel